
SEMARANG – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU, telah diselenggarakan kegiatan Tasyakur Harlah, Halal Bihalal, Pemecahan Rekor MURI, serta Inaugurasi (Pengukuhan) Paralegal Muslimat NU, Sabtu (11/04) di UTC Convention Hotel Semarang.
Acara tersebut dihadiri oleh Ketua PP Muslimat NU sekaligus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Arifatul Choiri Fauzi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Kepala Pusat Pembudayaan dan Bantuan Hukum BPHN Constantinus Kristomo, serta Direktur BSI beserta jajaran.
Dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Tengah, kegiatan ini diwakili oleh Penyuluh Hukum Ahli Madya, Lily Mufidah. Turut hadir pula Kepala Balai Harta Peninggalan (BHP) Semarang, Oryza.
Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah pemecahan Rekor MURI untuk kategori organisasi masyarakat perempuan dengan jumlah profesor perempuan terbanyak di Indonesia.
Dalam sambutannya, Ketua PW Muslimat NU Jawa Tengah, Ismawati Hafiedz, menyampaikan pesan kepada para paralegal yang baru dikukuhkan. “Selamat kepada ibu-ibu Paralegal Muslimat NU yang hari ini diinaugurasi. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi amanah besar. Paralegal adalah ujung tombak Muslimat NU dalam mendampingi perempuan, anak, dan keluarga yang membutuhkan keadilan. Jadilah pendamping yang sabar, cerdas, dan berakhlakul karimah, karena membela yang lemah adalah bagian dari jihad Muslimat NU,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PP Muslimat NU sekaligus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan dan peradaban.
“Momentum Harlah ke-80 Muslimat NU ini merupakan tonggak sejarah pengabdian perempuan dalam menjaga peradaban. Tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi global dan nasional. Tradisi menguatkan kemandirian dan meneduhkan peradaban menjadi cermin Muslimat NU sebagai penjaga nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin sekaligus penggerak perubahan sosial,” ungkapnya.
Ia menambahkan, “Menguatkan kemandirian adalah ikhtiar untuk memastikan perempuan dan anak tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek utama yang berdaya secara ekonomi, sosial, dan spiritual. Sementara itu, meneduhkan peradaban merupakan panggilan untuk menghadirkan Islam yang membawa kedamaian, memperkuat persatuan, serta menjadi solusi atas berbagai krisis kemanusiaan global,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para Paralegal Muslimat NU dapat berperan aktif dalam memberikan pendampingan hukum kepada masyarakat serta menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan keadilan yang inklusif dan berkeadaban.
#KitaMulaiCaraBaru #NyamanBersama #KemenkumJateng #KementerianHukum #LayananHukumMakinMudah
