
Semarang – Dalam rangka menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan, Kemenkum Jawa Tengah menggelar kajian rabu taqwa bertema “Kiat Baik Menuju Bulan Ramadhan” pada Rabu, 11 Februari 2026. Kajian tersebut disampaikan oleh Ustadz Iqbal Baswedan, Lc., yang mengajak jamaah untuk mempersiapkan diri agar Ramadhan tahun ini menjadi lebih baik dan lebih bermakna.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Iqbal menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan dalam satu tahun terdapat dua belas bulan, dan di antaranya ada empat bulan haram (bulan suci) yang dimuliakan. Keistimewaan empat bulan tersebut bahkan telah ada sejak sebelum Nabi Adam ‘alaihissalam. Di antara bulan-bulan tersebut adalah Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.
Namun demikian, Allah memberikan keistimewaan khusus kepada umat Nabi Muhammad berupa Bulan Ramadhan. “Ramadhan adalah anugerah luar biasa bagi umat ini. Allah memberikan kepada kita bulan yang penuh keberkahan agar kita menjadi umat yang lebih mulia dibandingkan umat-umat sebelumnya,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa umat Nabi Muhammad adalah umat terakhir yang menghuni bumi, namun menjadi umat pertama yang dihisab dan pertama kali masuk surga. Salah satu bentuk kemuliaan tersebut adalah adanya Ramadhan, di mana pahala dilipatgandakan dan pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya.
“Agar pahala kita lebih besar dari umat-umat sebelum kita, Allah memberikan Ramadhan kepada kita. Maka maksimalkanlah ibadah di waktu-waktu yang penuh keberkahan ini,” ujar Ustadz Iqbal.
Dalam kajian tersebut, ia menekankan bahwa di antara sifat seorang mukmin adalah berbahagia dalam ketaatan. Seorang yang beriman merasa senang ketika Allah memudahkan dirinya untuk beribadah dan mendapatkan pahala yang besar.
Ustadz Iqbal juga mengingatkan tentang dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi. “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa pahala puasa memiliki keistimewaan tersendiri. Tidak seperti amalan lain yang disebutkan kelipatan pahalanya, puasa adalah ibadah yang balasannya langsung dari Allah dengan pahala yang tidak terbatas.
Selain itu, jamaah juga diingatkan pentingnya memahami hal-hal yang wajib dan yang haram. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang memperbaiki diri, menjaga lisan, menahan amarah, serta menjauhi maksiat.
Dalam pemaparannya, Ustadz Iqbal menyampaikan beberapa kiat agar Ramadhan lebih bermakna:
Pertama, menyadari bahwa hidup adalah pertanggungjawaban. Setiap perkataan dan perbuatan akan dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Kedua, meyakini bahwa setiap kebaikan akan kembali kepada diri sendiri. Sedekah, membantu sesama, dan amal saleh lainnya akan mendatangkan ketenangan hati dan keberkahan hidup.
Ketiga, memahami keutamaan Ramadhan, di mana pahala dilipatgandakan, dosa diampuni, doa lebih mudah dikabulkan, dan terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
Keempat, menjadikan puasa sebagai latihan pengendalian diri, bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga sikap dan perilaku.
Kelima, memiliki target ibadah, seperti mengkhatamkan Al-Qur’an, rutin tarawih, memperbanyak sedekah, dan memperbanyak doa agar Ramadhan lebih terarah dan optimal.
Kajian ini diharapkan dapat menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi jamaah untuk menyambut Ramadhan dengan persiapan iman, ilmu, dan amal, sehingga Ramadhan tahun ini benar-benar membawa perubahan dan peningkatan kualitas diri.
#KemenkumJateng #KementerianHukum #LayananHukumMakinMudah
