
SEMARANG — Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Tengah menggelar Kajian Ramadhan dengan menghadirkan Ustaz Ryan Rahman Hakim. Dalam ceramahnya, ia menekankan makna puasa sebagai ibadah yang memiliki dimensi spiritual paling personal antara hamba dan Tuhan, pada Senin (23/02) di Masjid Al Hikmah.
“Setiap amal saleh manusia akan kembali kepada dirinya. Satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali, bahkan hingga tujuh ratus kali. Namun puasa berbeda. Puasa adalah milik Allah, dan Allah sendiri yang akan membalasnya,” ujar Ryan.
Menurutnya, puasa menjadi istimewa karena seorang hamba secara sadar meninggalkan syahwat dan nafsunya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari semata-mata karena Allah SWT. Dari pengendalian diri itulah lahir kebahagiaan yang dijanjikan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Tuhan di hari kiamat.
Puasa, kata dia, mengajarkan nilai keikhlasan. Ibadah ini berlangsung dalam “diam”, tanpa sorotan, tanpa pamrih, karena yang mengetahui keabsahannya hanya hamba dan Tuhannya. “Puasa membimbing kita untuk beramal tanpa mengharap penilaian manusia,” katanya.
Selain itu, puasa juga menjadi latihan kesabaran. Sabar dalam menaati perintah Allah, sabar menjauhi larangan-Nya, dan sabar menerima takdir yang terasa berat. Tujuannya satu: membentuk pribadi yang bertakwa.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Ryan juga mengingatkan sejumlah amalan yang dapat dioptimalkan selama Ramadhan. Di antaranya menunaikan ibadah wajib tepat waktu, terutama salat lima waktu; mengerjakan 12 rakaat salat sunnah rawatib; serta melaksanakan salat tarawih berjamaah bersama umat Islam.
Kajian berlangsung khidmat. Pesan yang disampaikan sederhana, namun tegas: Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum pembentukan karakter takwa melalui keikhlasan dan kesabaran.
#Kemenkumjateng #kementerianhukum #layananhukummakinmudah#NyamanBersama #RamadanNyamanBersama #MudikNyamanBersama #LebaranNyamanBersama
