*Kajian Rabu Taqwa: Syawal Jadi Momentum Istiqamah dan Peningkatan Amal*

SEMARANG - Kegiatan Kajian Rabu Taqwa, (01/04), kembali digelar di Masjid Al Hikmah Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Tengah dengan menghadirkan Ustaz Haris Budiatna sebagai penceramah. Dalam tausiyahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk memaknai bulan Syawal sebagai momentum menjaga konsistensi ibadah setelah menjalani Ramadan.
Ustaz Haris menjelaskan bahwa bulan Syawal menjadi penanda kembalinya manusia kepada kesucian diri usai sebulan penuh berpuasa. Namun demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan Ramadan tidak berhenti pada perayaan Idulfitri semata, melainkan harus diwujudkan melalui sikap istiqamah dalam beribadah di bulan-bulan berikutnya.
“Di bulan Syawal ini, kalau bisa kita tetap istiqamah sebagaimana saat bulan Ramadan. Jangan sampai semangat ibadah kita menurun,” ujarnya di hadapan para jamaah.
Lebih lanjut, ia menguraikan kedudukan bulan Syawal dalam Islam yang memiliki berbagai keutamaan. Syawal merupakan bulan ke-10 dalam kalender Hijriah yang menjadi fase peningkatan amal setelah Ramadan. Selain itu, terdapat anjuran untuk melangsungkan pernikahan di bulan ini, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang menikahi Aisyah RA pada bulan Syawal, sekaligus mematahkan anggapan masyarakat jahiliyah bahwa bulan tersebut membawa kesialan.
Ia juga mengingatkan bahwa 1 Syawal diperingati sebagai Hari Raya Idulfitri, yakni hari kemenangan bagi umat Islam setelah menahan hawa nafsu selama Ramadan. Tidak hanya itu, umat Islam juga dianjurkan untuk mengqadha i’tikaf yang terlewat pada bulan Ramadan dan melaksanakan puasa sunnah selama enam hari di bulan Syawal.
“Jika digabungkan dengan puasa Ramadan, maka pahalanya seperti berpuasa sepanjang tahun,” jelasnya, merujuk pada hadis riwayat Muslim.
Selain sebagai bulan peningkatan amal, Syawal juga menjadi momentum untuk bermuhasabah atau evaluasi diri, sekaligus mempererat tali silaturahmi dengan saling memaafkan. Tradisi ziarah kubur yang kerap dilakukan setelah Idulfitri juga dinilai sebagai amalan baik untuk mendoakan para almarhum, mengingat kematian, serta menjaga hubungan kekeluargaan.
Menutup kajiannya, Ustaz Haris mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Syawal sebagai jembatan dalam mempertahankan kualitas ibadah yang telah dibangun selama Ramadan, sehingga nilai-nilai kebaikan dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari.
