
SEMARANG – Kisah perjuangan hidup Rasulullah Muhammad SAW kembali diangkat dalam Kajian Kamis Taqwa yang diselenggarakan oleh Badan Amalan Islam (BAI) Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Tengah. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (26/06) di Masjid Al Hikmah ini menghadirkan Ustadz Iqbal Baswedan sebagai pemateri.
Dalam kajiannya, Ustadz Iqbal menguraikan perjalanan hidup Rasulullah sejak masa kecil yang penuh ujian dan cobaan, namun sarat dengan pelajaran hikmah yang mendalam. Rasulullah ditinggal wafat oleh ibundanya, Aminah, saat beliau baru berusia enam tahun, dalam sebuah perjalanan ziarah ke makam ayahnya, Abdullah. Sejak saat itu, beliau menjadi yatim piatu dan diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib — seorang tokoh terhormat di Mekkah.
Namun, hanya dua tahun berselang, kakeknya pun wafat, dan Muhammad kecil pun diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Dalam asuhan pamannya, Rasulullah mulai menunjukkan kedewasaan dan kemandirian. Beliau menyampaikan keinginannya untuk menggembala kambing — sebuah pilihan yang dianggap remeh oleh sebagian orang, namun justru menjadi latihan kehidupan yang penting. Dari menggembala kambing, Nabi belajar sabar, perhatian, dan tanggung jawab, sebagai bekal dalam mengemban amanah besar kenabian.
“Seorang rasul harus melalui proses pembentukan jiwa. Kesabaran, empati, dan kedekatan dengan masyarakat miskin serta anak yatim adalah nilai penting yang harus dimiliki,” terang Ustadz Iqbal.
Pada usia 12 tahun, Nabi Muhammad turut serta dalam perjalanan dagang ke negeri Syam bersama Abu Thalib. Dalam perjalanan itu, mereka bertemu dengan seorang rahib bernama Buhaira yang melihat tanda-tanda kenabian dalam diri beliau dan menyatakan bahwa anak ini kelak akan menjadi utusan Allah.
Ustadz Iqbal juga mengingatkan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Baik, yang senantiasa memberikan nikmat tak terhingga kepada hamba-Nya. Maka, bersyukur atas nikmat-nikmat itu adalah ibadah yang dicintai Allah. Salah satu bentuk syukur ialah dengan mengasihi anak yatim dan fakir miskin, sebagaimana dicontohkan Rasulullah.
